Lima flora langka di Indonesia dan upaya pelestariannya

Written by

in

Pembukaan

Menurut ANTARA News – Warta Bumi (Lingkungan/Sains), Indonesia memiliki kekayaan hayati yang sangat luas. Namun di balik beragam ekosistemnya, ada sejumlah tumbuhan langka yang perlahan mulai hilang dari alam.

Karena itu, mengenal daftar tumbuhan langka di Indonesia beserta upaya pelestariannya menjadi langkah penting agar generasi berikutnya masih bisa menikmati kekayaan hayati yang sama. Dalam laporan ini, ANTARA merangkum lima tumbuhan langka yang terancam punah dan langkah pelestarian yang disebutkan dalam sumber yang dihimpun.

Lima flora langka yang disorot

ANTARA menyebut kantong semar sebagai salah satu tumbuhan yang sebagian besar jenisnya kini masuk kategori terancam punah. Tanaman unik ini sering diburu, sementara kemampuan berkembang biaknya terbilang lambat, sehingga jumlahnya di alam makin terbatas.

Laporan yang sama juga menyebut adanya sejumlah anggrek langka di Indonesia, seperti Goodyera pusilla, Goodyera reticulata, Goodyera viridiflora, Phalaenopsis cornu-cervi, Phalaenopsis fimbriata, dan Vrydagzynea albida. Kelangkaan jenis-jenis ini dijelaskan berkaitan dengan populasinya yang sedikit dan proses perkembangbiakan yang lambat.

Flora lain yang disorot adalah rotan batang atau Calamus zollingeri Becc, yang statusnya disebut sudah tergolong genting. Jenis rotan ini makin jarang ditemui karena reproduksinya rendah dan adanya eksploitasi berlebihan selama bertahun-tahun.

ANTARA juga menulis tentang pinang hutan atau pinang kipas yang umumnya ditemukan di Sulawesi, tetapi populasinya saat ini sangat minim. Penyebab utamanya disebut pengambilan besar-besaran untuk dijadikan tanaman hias, tanpa diimbangi usaha penanaman kembali.

Selain itu, Rafflesia arnoldii disebut sebagai bunga terbesar di dunia. Tanaman parasit ini hidup pada jaringan tumbuhan merambat dan tidak memiliki daun, sehingga tidak dapat melakukan fotosintesis. ANTARA menambahkan bahwa Rafflesia pertama kali ditemukan pada 1818 di hutan tropis Bengkulu, dekat Sungai Manna di Lubuk Tapi, Bengkulu Selatan, oleh seorang pemandu lokal yang bekerja untuk Dr. Joseph Arnold. Nama Rafflesia kemudian diberikan untuk menghormati Thomas Stamford Raffles, pemimpin ekspedisi saat itu.

ANTARA menutup bagian ini dengan menegaskan bahwa selain kelima tumbuhan tersebut masih banyak flora langka lain yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, masing-masing dengan tantangan dan ancaman yang berbeda-beda.

Upaya pelestarian dan konservasi

Melihat semakin menurunnya jumlah berbagai tumbuhan langka, ANTARA menilai langkah pelestarian menjadi hal yang tidak bisa ditunda lagi. Dalam penjelasannya, ada dua metode konservasi yang biasa digunakan, yaitu ex situ dan in situ.

Ex situ dijelaskan sebagai upaya pengembangbiakan yang dilakukan di luar habitat aslinya. Lingkungan baru tempat tumbuhan dirawat dibuat semirip mungkin dengan kondisi aslinya agar pertumbuhannya tetap optimal.

Sementara itu, in situ adalah pelestarian yang dilakukan langsung di habitat alami tumbuhan tersebut. Cara ini bertujuan menjaga populasi tetap bertahan di ekosistem yang memang menjadi tempat tumbuhnya sejak awal.

Untuk mendukung kedua metode tersebut, pemerintah Indonesia telah membangun sejumlah kawasan konservasi. Kehadiran area-area ini dimaksudkan untuk menjaga dan memulihkan populasi tumbuhan langka yang kian berkurang.

ANTARA merinci beberapa jenis kawasan konservasi yang telah dibentuk, yaitu taman nasional, suaka margasatwa, taman wisata alam, taman hutan raya, taman buru, dan cagar alam, masing-masing dengan fungsi pelestarian yang berbeda.

Sumber asli: ANTARA News – Warta Bumi (Lingkungan/Sains)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *