Pembukaan
Menurut ANTARA News – Tekno, gerhana matahari total merupakan salah satu fenomena astronomi yang paling dinantikan karena hanya terjadi pada waktu dan wilayah tertentu. ANTARA menjelaskan bahwa peristiwa ini terjadi ketika Bulan berada tepat di antara Bumi dan Matahari sehingga seluruh piringan Matahari tertutup dari pandangan pengamat di Bumi.
Tempo – Tekno juga mencatat bahwa pada Agustus 2026 ada sejumlah fenomena astronomi, tetapi tidak semuanya bisa disaksikan di wilayah Indonesia. Di antaranya adalah gerhana Matahari total dan gerhana Bulan sebagian.

Apa yang terjadi saat gerhana Matahari total
Gerhana Matahari hanya terjadi saat fase Bulan baru, ketika Bulan berada di sisi yang sama dengan Matahari jika dilihat dari Bumi. Namun, tidak setiap Bulan baru menghasilkan gerhana karena bidang orbit Bulan tidak sejajar dengan bidang orbit Bumi mengelilingi Matahari.
ANTARA menjelaskan bahwa gerhana baru dapat terjadi saat Bulan baru melintasi bidang ekliptika pada musim gerhana. Pada saat itu, bayangan Bulan dapat jatuh ke permukaan Bumi, dan orang yang berada di jalur bayangan inti atau umbra dapat menyaksikan gerhana total. Wilayah di luar jalur tersebut hanya melihat gerhana sebagian atau bahkan tidak mengalami gerhana sama sekali.
ANTARA juga menyebut wilayah penumbra dapat membentang hingga ribuan kilometer, sedangkan bayangan inti membentuk jalur totalitas yang bergerak melintasi permukaan Bumi. Fenomena ini kerap disebut sebagai kebetulan kosmis karena menghasilkan salah satu pemandangan langit yang spektakuler.

Urutan fase gerhana
Gerhana Matahari total berlangsung melalui beberapa fase berurutan. Tahap awal dimulai ketika tepi Bulan mulai menutupi Matahari sehingga bentuk Matahari tampak berubah menjadi sabit.
Sesaat sebelum totalitas, cahaya Matahari masih dapat menembus lembah dan cekungan di permukaan Bulan sehingga muncul titik-titik cahaya kecil di sepanjang tepinya. Fenomena ini dikenal sebagai Baily’s Beads, lalu disusul diamond ring effect ketika cahaya Matahari yang tersisa tampak seperti berlian terang pada cincin tipis yang mengelilingi Bulan.
Pada fase totalitas, seluruh piringan Matahari tertutup Bulan. Langit menjadi gelap, bintang-bintang terang dapat mulai terlihat, dan pengamat bisa menyaksikan korona Matahari. Setelah beberapa menit, Bulan bergeser dan cahaya Matahari kembali muncul hingga diamond ring effect dan Baily’s Beads terlihat lagi sebelum Matahari bersinar penuh.
ANTARA menyebut korona biasanya tidak terlihat pada hari biasa karena tertutup cahaya Matahari yang sangat terang. Pada gerhana total, suhu udara juga dapat sedikit menurun karena cahaya Matahari tertutup sepenuhnya.

Wilayah yang dapat menyaksikan fenomena Agustus 2026
Berdasarkan data NASA dan European Space Agency (ESA) yang dikutip ANTARA, jalur gerhana Matahari total pada 12 Agustus 2026 diperkirakan melintasi sejumlah wilayah di belahan bumi utara. Di Spanyol, jalur totalitas disebut melintasi Galicia, Asturias, Castile and León, Aragon, hingga Kepulauan Balearic. ANTARA juga menyebut wilayah lain seperti Inggris Raya, Prancis, Jerman, Italia, negara-negara Skandinavia, Maroko, Aljazair, serta wilayah timur laut Amerika Serikat, termasuk New York dan Boston, diperkirakan hanya akan menyaksikan gerhana Matahari sebagian.
Tempo – Tekno melaporkan bahwa menurut pegiat astronomi komunitas Langit Selatan Bandung, Avivah Yamani, gerhana Matahari total sekitar 12-13 Agustus hanya melintasi wilayah utara Amerika Utara, wilayah barat Afrika, dan Eropa. Tempo juga menyebut jalur totalitasnya melintasi Arktik, Greenland, Islandia, Spanyol, Portugal, dan Rusia.
Untuk fenomena lain pada Agustus 2026, Tempo menulis gerhana Bulan sebagian pada 28 Agustus hanya bisa diamati dari wilayah timur Pasifik, Amerika, Eropa, dan Afrika. Di Indonesia, peristiwa itu terjadi pada siang hari sehingga tidak bisa diamati. Tempo juga menambahkan bahwa hujan meteor Perseid berlangsung sampai 24 Agustus dan berasal dari debu Komet Swift-Tuttle, dengan radiannya tampak datang dari Rasi Bintang Perseus.
Tempo menyebut sejumlah fenomena langit lain yang bisa diamati dari Indonesia, tetapi beberapa di antaranya tetap bergantung pada lokasi pengamatan. Di antaranya, pada 9 Agustus Bintang Elnath akan menghilang di balik Bulan dan hanya bisa diamati di Papua Selatan. Bintang Beta Tauri juga disebut akan menghilang di balik Bulan pada pukul 01.28 sampai 02.12 WIB, sementara bagi sebagian besar pengamat di Indonesia keduanya akan tampak berpapasan sangat dekat.
Tempo juga melaporkan bahwa pada 16 Agustus, Bulan akan tampak sangat dekat di atas ufuk barat saat senja setelah Matahari terbenam, dan keduanya bisa diamati sampai Venus terbenam pukul 20.47 WIB disusul Bulan 8 menit kemudian. Lalu pada 21 Agustus, posisi Bulan akan tampak dekat dengan bintang terang Antares di arah selatan–barat daya dan bisa diamati sejak Matahari terbenam sampai tengah malam.
Selain itu, Tempo menuliskan bahwa fase Bulan Baru terjadi pada 13 Agustus dan Bulan akan mencapai apogee pada 22 Agustus sejauh 404.642 kilometer. Fase Bulan Purnama 28 Agustus muncul sejak Matahari terbenam sampai fajar tiba, dan purnama kedua pada Agustus itu disebut Bulan Biru.

Mengapa peristiwa ini menarik perhatian
ANTARA menyebut gerhana Matahari total menjadi momen penting bagi para astronom dan menarik perhatian masyarakat karena memungkinkan pengamatan langsung terhadap korona Matahari yang biasanya tidak terlihat dari Bumi. Meski berlangsung hanya beberapa menit di setiap lokasi, peristiwa ini tetap menjadi salah satu fenomena langit yang paling dinanti.
Tempo mengingatkan bahwa tidak semua fenomena astronomi pada Agustus 2026 bisa disaksikan di wilayah Indonesia, sehingga pengamatan sangat bergantung pada jenis fenomena dan lokasi pengamat.
Sumber-sumber asli: ANTARA News – Tekno, Tempo – Tekno
Leave a Reply